Masyarakat Memilih ?

tolak full day school
Full Day School

Full Day School secara umum adalah program sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah selama sehari penuh. Umumnya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan full day school dimulai 07.00 sampai 16.00. Dengan memasukkan anak-anak ke full day school, orang tua berharap anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu belajar di lingkungan sekolah dari pada di rumah dan anak-anak dapat berada kembali di rumah setelah menjelang sore untuk berkumpul dengan keluarga.

Full day school sebenarnya memiliki kurikulum inti yang sama dengan sekolah umumnya, namun mempunyai kurikulum lokal. Dengan demikian kondisi anak didik diharapkan lebih matang baik itu dari segi materi akademik maupun non akademik.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan di News republika.co.id menegaskan pendidikan karakter akan menjadi titik berat dalam Full Day School nanti. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang berpesan kondisi ideal pendidikan di Indonesia adalah terpenuhinya pendidikan karakter kepada peserta didik.

Pada jenjang Sekolah Dasar (SD) mendapatkan pendidikan karakter 80 persen dan pengetahuan umum 20 persen. Sedangkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) terpenuhi 60 persen pendidikan karakter dan 40 persen pengetahuan umum. ”Merujuk arahan Presiden Joko Widodo, kita akan memastikan bahwa memperkuat pendidikan karakter peserta didik menjadi rujukan dalam menentukan sistem belajar mengajar di sekolah,” kata Muhadjir.
Baca juga : Santri Kempek Ikut Serta Dalam Demo Aksi Damai Tolak Full Day School
Pondok Pesantren

Pondok pesantren yang merupakan sistem kultural pendidikan asli Indonesia. Sebelum adanya pendidikan formal yang dibuat oleh pemerintah Indonesia saat ini, pesantren sudah terlebih dahulu mendampingi masyarakat Indonesia dalam hal pendidikan dan pembentukan karakter bangsa. Dimana program-program pesantren telah banyak memberi sumbangsih dan telah melalui banyak perkembangan sesuai dengan berbagai tuntutan dan tantangan yang dihadapi bangsa. Meski tidak banyak yang diakoomodir pemerintah dan tidak pernah disamakan kurikulumnya secara terstruktur, namun pesantren di Indonesia tanpa diduga dengan sendirinya memiliki kesamaan karakter, kultur, serta sistem yang hampir sama. Hal ini karena keajaiban tradisi transfer intelektual yang memegang sanad serta mengedepankan adab dan akhlak yang dicontohkan guru dari masa ke masa. Sehingga apa yang diajarkan oleh guru senantiasa dipegang erat oleh alumni-alumninya yang kemudian berdiaspora ke berbagai penjuru Indonesia dengan turut menyebarkan dakwah islam melalui pendidikan.

Di pesantren pendidikan seharian penuh. Dalam hal ini setiap hari para santri akan menjalani aktifitas mulai dari subuh dengan melaksanaka shalat subuh berjamaah, kemudian  yang langsung melaksanakan kegiatan pengajian. Setelah itu, santri menjalankan aktifitas pagi, untuk  santri yang masih sekolah, maka selanjutnya santri akan bersekolah, sedangkan santri yang khusus mondok saja, dan aktifitas selanjutnya menjalani berbagai aktifitas harian pondok, termasuk mengaji dan aktivitas lainnya. Semua program yang dijalani santri akan berakhir hingga malam menjelang tidur.

Jangan berpikir bahwa semua aktivitas di dalamnya penuh kekakangan. Semua bayangan tersebut salah !!
Karena semua santri menjalankan semua aktifitas dengan menjadi jati dirinya. Semua santri mengikuti pengajian dengan kesadaran masing-masing akan pentingnya mengaji dan berilmu. Selain itu mereka juga akan mengerti pentingnya tatakrama. Teman, guru, dan semua yang ada di pesantren bukan lagi sekedar sesuatu yang terkait sistem, melainkan bagian dari jati diri. Lebih mirip keluarga dan sahabat untuk bermain. Sehingga meskipun aktifitasnya adalah pelajaran dan pendidikan, tapi suasananya seperti sedang bermain dan bercengkrama dengan keluarga.

Sedikit pertanyaan dari kami “Apakah full day school mampu menyeimbangkan pelajaran umum dan pelajaran agama Islam seperti yang diajarkan dipondok peantren yang ada di Indonesia ?. (MC)



Post a Comment