Ketika Harga Diri Orang Desa Lebih Tinggi Dari Gubernur


Maroko, - Kempek Online

Dahulu kala orang arab sangat mempertimbangkan sebuah kabilah atau kelompok masyarakat. Kabilah bagi mereka pada waktu itu adalah sebuah identitas sehidup semati dan menjadikannya sebagai harga diri yang sangat mahal harganya. Orang-orang pada masa itu tidak menanyakan dari kota mana mereka berasal, melainkan asal-usul kabilah mereka.

Ada beberapa kabilah yanvg di anggap rendah di antaranya Bani Anfu Naqah, yg berarti keluarga hidung unta, alasannya berawal dari cerita ketika seorang ayah yang menyembelih unta miliknya dan akan dibagikan kepada anak-anaknya.

Ketika itu semuanya sudah mendapat bagiannya masing-masing.  Ada satu satu anak yang malang yang belum mendapat bagiannya, dan ketika anak itu datang ia hanya mendapatkan sisa-sisa dari saudara-saudaranya yg lain yaitu seonggok hidung unta, dan ketika ia mempunyai anak, keturunannya di namai Bani Anfu Naqah.

Ada juga kabilah Bani Numair. Mereka adalah kelompok yg sangat bangga dengan kabilahnya ini. Saking bangganya, ketika salah satu dari mereka di tanya dari mana ia berasal, ia menjawab Numair, dengan mentafkhim semuanya (menebalkan huruf) padahal seharusnya kalimat itu di baca tarqiq (di baca tipis).
Baca juga : Kyai Jarang Engkeg
Ada sebuah kisah seorang Gubernur bernama Qutaibah bin Muslim, meskipun ia seorang Gubernur sekaligus di anggap sebagai pahlawan, akan tetapi ia berasal dari kabilah Bahilah.

Kabilah ini adalah kabilah yg sangat rendah dalam setrata sosial masyarakat Arab pada zaman itu. Bahkan ada seorang penyair yang mengisyaratkan betapa rendahnya kabilah ini, dalam syairnya yang berbunyi:

إذا قيل للكلب يا باهلي  #    عوى الكلب من لوم هذا النسب

"Jika ada seekor anjing dipanggil dengan panggilan ‘hai Bahili’, pasti ia akan menyalak, dan mencela nasab ini."

Bayangkan Anjing saja marah, dan tidak mau disebut Bahili (orang Bahilah).

Suatu ketika sang Gubernur kedatangan seorang tamu orang badui ia bertanya kepada seorang Badui. Hai orang badui apa kamu mau menjadi anggota kabilah Bahilah lalu akan aku beri kamu setengah istana ini? tanpa basa-basi orang Badui menjawab tidak!.

Kemudian sang Gubernur menanyakan hal yang sama dengan imbalan seluruh istananya, dan orang badui ini lagi-lagi menjawab jawaban yg sama dengan tanpa pikir panjang pula.

Setelah itu Sang Gubernur menanyakan hal yg serius kepada orang badui ini.

"Apa kamu mau menjadi bagian dari kabilah Bahilah dan masuk syurga...?".

Orang Badui terdiam, selang beberapa saat ia menjawab,
"Dengan satu syarat wahai Pak Gubernur"

"Apa itu?", tanya sang Gubernur.

"Satu syarat yang harus engkau penuhi adalah ketika nanti aku masuk syurga,  tidak ada yg boleh tahu satu orang pun dari penghuni syurga kalau saya dari kabilah Bahilah".

Drissia Tanger, Maroko.
13 Januari 2018 M.
Oleh Syibli Nasrullah.
Penulis adalah Santri KHAS Kempek lulusan tahun 2013.

Post a Comment