Khatam Al-Qur’an Itu Bagus, Memahami dan Mengamalkannya Jauh Lebih Bagus

Hataman dan haul pesantren kempek cirebon
Khotimat Al-Qur'an Bil Hifdzi sedang melantunlak ayat suci Al-Qur'an

Oleh Siti Jubaidah

Siang itu menjelma menjadi hari yang begitu istimewa bagi para khotimat Al-Qur’an dan Juz ’Amma di Pesantren Putri Aisyah Kempek, Cirebon. Bagaimana tidak, perjuangan mengaji selama lima tahun akhirnya bisa selesai dan dirayakan dengan suka cita. Satu per satu para khotimat melangkahkan kaki menuju panggung. Dengan dibalut gamis berwarna biru muda dan make-up yang menawan, mereka terlihat sangat cantik memesona para tamu yang datang berduyun-duyun dari berbagai daerah.

Menjadi khotimat Al-Qur’an merupakan sebuah pencapaian terbesar seorang santri di Pondok Pesantren Putri Aisyah, Kempek, Cirebon. Metode pengajian Pesantren Kempek dikenal ketat dan relatif lama demi mencapai tingkat kefasihan pelafalan Al-Qur’an yang tinggi. Hal ini membuat siapa pun akan berjuang mati-matian dalam belajar dan mengasah makhorijul huruf agar bisa cepat fasih dan pindah ke tahap mengaji selanjutnya.

Namun setelah mengkhatamkan Al-Quran pun sebenarnya perjalanan belum selesai. Itu masih belum cukup bagi seorang santri. Yang lebih penting bagi santri adalah bagaimana dia bisa memahami dan mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Qur’an.
Baca juga : PP. Putri Aisyah Kempek Cirebon Gelar Khataman Al-Qur'an dan Juz'Amma
Demikian kiranya yang disampaikan salah seorang wali santri yang berasal dari Cirebon, Bapak H. Nur Kholis. Dalam sambutannya di panggung mewakili wali santri lainnya, beliau mengatakan bahwa pencapaian santri masih belum sempurna.

“Anak-anak kita baru mencapai tahap bisa membaca Al-Qur’an, belum mencapai tahap memahami ataupun mengamalkannya. Maka jangan berhenti belajar,” katanya.

Dia pun menyampaikan pesan agar dalam mendidik anak yang mempelajari Al-Qur’an tidak cukup sekadar mengajarinya bisa membaca tapi harus bisa memahami dan menjaganya, terutama bagi mereka yang menghafalkan Al-Qur’an.

Post a Comment