Gak Hatam Qur'an Kempek, Gak Keren!

hataman quran kempek cirebon


Pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan agama Islam yang memiliki ciri khas metode dalam cara pengajarannya. Baik dari sisi pelajaran, pengajaran, budi pekerti,  dan khusunya mengaji. Namun tidak semua pondok pesantren di Indonesia memiliki metode yang serupa. Bahkan banyak pondok pesantren yang terkenal dan memiliki banyak santri karena keistimewaan atau keunggulan dari pondok pesantren tersebut.

Salah satu pondok pesantren yang ada di Cirebon,  Jawa Barat ini adalah Pondok Pesantren Putri Aisyah Kempek. Atau yang biasa dikenal dengan pondok MIIS adalah contoh dari sekian banyaknya pondok pesantren yang ada di Jawa Barat, yang mempunyai adat istiadat Khataman Al-Quran setiap tahunnya.
Berbeda dengan pondok pesantren lain, di pondok pesantren tersebut para santri ditekankan pada kefasihan membaca al-quran atau ketartilannya dalam melafalkan ayat-ayat suci al-quran.
Baca juga : PPP. Aisyah Kempek Gelar Hataman Al-Qur'an dan Juz Amma
Khatam quran pun tidak dapat santri lakukan dengan percuma. Ia harus melalui beberapa fase yang bertahap dari al-fatihah, kemudian tahiyat, setelah itu juz 'amma, lalu setengah kaca (membaca quran hanya setengah halaman saja), dan sekaca (lanjutan dari membaca setengah halaman yaitu membaca satu halaman). Tidak berhenti pada fase-fase tersebut, apabila si santri ini telah sampai pada juz 10 maka ia akan berhadapan langsung kepada sang pengasuh yakni Umi Ny. Hj. Afwah Mumtazah untuk mengaji dengan ketartilan yang amat sangat diperhatikan.

"Menawi bade ngaos kuh nderes kalih kakak kelase niku ping pitu mbaa...!" itulah kalimat yang sering santri dengarkan ketika bacaannya salah barang hanya kurang dengungnya 3 harakat saja. Belum lagi banyaknya ayat-ayat nyeleneh yang terdapat di dalam al-quran. Bagian tersedihnya terletak ketika si santri salah dalam melafalkan ayat yang nyeleneh tersebut dan bacaan yang dibacanya itu diundur sampai satu juz sebelumnya.
Ketegasan Umi dalam mengajarkan santrinya karena Umi tidak mau santrinya salah dalam melafalkan ayat-ayat suci al-quran. Karena apabila santrinya melafalkan suatu kata yang tidak sesuai dengan tulisan atau firman Allah tersebut maka ia akan mengubah artinya dan akan mendapatkan kemurkaan dari setiap huruf yang dibacanya. Terlebih ayat-ayat nyeleneh yang memang ada panduan cara membacanya di dalam kitab Risaalatul quro.

Maka dari itu khatam al-quran adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan santri Kempek. Begitu banyak tahapan, rintangan, cobaan, keputus asaan, bahkan derai air mata untuk sampai kepada titik tersebut.
Layaknya hari itu 4 September 2017 adalah hari dimana rasa bangga,  dan haru bercampur menjadi satu dalam hari pelaksanaan acara Khatimatul Qur'an dan wisuda santriwati Pondok Pesantren Putri Aisyah Kempek. Tak pernah disangka hari itu datang, dan berlalu sangat cepat. Hingga kini kenangan itu masih terasa,  masih terekam, dan tentunya tidak akan pernah terluoakan dari benak para santriwati. (Arinalhaque)

Post a Comment