Kenapa Santri Kempek Baru Wajib Jama’ah Sholat Fardlu 40 Hari?

Pondok Pesantren Kempek Cirebon
Menunggu Jama'ah

Oleh : Ahmad Hammam Ibnu Hasanuddin Ghofur
 
Sudah menjadi tradisi bagi santri Kempek yang masih baru, untuk di anjurkan melaksanakan sholat fardlu lima waktu dengan berjama’ah selama 40 hari dengan mendapatkan takbir pertama ( takbirotu al-ihrom-nya imam ). Bahkan jika belum berhasil menunaikannya, para santri meyakini bahwa orang tersebut belum memenuhi syarat di akui sebagai santri Kempek. Entah itu sudah menjadi keyakinan atau memang sengaja di buat agar santri tersebut memiliki rasa tanggung jawab untuk melaksanakannya.

Lalu kenapa para santri selalu saja mendorong santri baru untuk melaksanakan sholat fardlu jama’ah 40 hari?. Padahal itu adalah peraturan tersirat bukan tersurat, artinya tidak adanya aturan secara tertulis yang ketika tidak melaksanakannya akan mendapatkan sangsi dari pengurus.

Ini menarik untuk di bahas, apalagi jika si santri tersebut tidak mendapatkan takbirotu al-ihrom- nya imam, maka santri tersebut gagal dalam melaksanakan jama’ah, dan harus mengulangi lagi dari jumlah awal, terlebih jika santri tersebut bangun kesiangan sholat shubuh, bagaikan seorang artis yang keluar dari sebuah gedung pertujukan dengan di sambut sorak sorai penonton.

Lalu kenapa syarat ini di bebankan kepada santri baru?. Itu dikarenakan santri baru masih polos dan belum banyak kesibukan di bandingkan santri lama, semakin lama santri itu mondok biasanya semakin di sibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang membuat tidak bisa berjama’ah penuh lima waktu sehari.
Ada beberapa pandangan kenapa jama’ah sholat fardlu 40 hari harus dilakukan oleh santri baru?.
1.      Dipandang dari sudut pandang peraturan pesantren secara tersirat dan yang ke-
2.      Di lihat dari sudut pandang syari’at.

Sejak pertama kali didirikannya pondok pesantren Kempek, Mbah Kyai Harun sudah menanamkan sejak dini kepada santrinya untuk melaksanakan sholat berjama’ah 40 hari tanpa terputus. Bagi seorang santri, perintah sang kyai adalah suatu kewajiban dan membanggakan ketika sanggup melakukannya.

Sedangkan di lihat dari sudut pandang syari’at, nabi Muhammad saw bersabda

عن أنس بن مالك ـ رضي الله عنه ـ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِن النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِن النِّفَاق

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbir pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).

Ada beberapa kandungan yang terdapat didalam hadits tersebut:
1.      Ada dua keutamaan bagi mereka yang melaksanakan jama’ah 40 hari dengan mendapatkan takbir pertama ( takbirotu al-ihrom ) tanpa terputus, yaitu keutamaan “bebas dari neraka” dan “bebas dari sifat kemunafikan”.
2.      Sedangkan yang dimaksud dengan selamat dari kemunafikan ialah sebagaiman dijelaskan oleh Al-Imam Al-‘Allamah al-Thiibi rahimahullah, ia berkata: ”Ia dilindungi (oleh Allah) di dunia ini dari melakukan perbuatan kemunafikan dan diberi taufiq untuk melakukan amalan orang-orang yang ikhlas. Sedangkan di akhirat, ia dilindungi dari adzab yang ditimpakan kepada orang munafik dan diberi kesaksian bahwa ia bukan seorang munafik. Yakni jika kaum munafik melakukan sholat, maka mereka sholat dengan bermalas-malasan. Dan keadaannya ini berbeda dengan keadaan mereka.” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi juz I/ hal. 201).
3.      Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk dapat meraih dua keutamaan pada hadits tersebut, diantaranya adalah:
  •  Dalam mendirikan sholat, harus dilandasi niat ikhlas dan tulus, hanya untuk Allah semata.
  •  Dalam mendirikan sholat, harus sesuai dengan yang Rasulullah saw ajarkan.
  •  Harus dilakukan secara berjama’ah, baik di masjid ataupun di musholla.
  •  Selalu menjaga sholat berjama’ah selama 40 hari dalam lima waktu.
  • Mendapatkan takbiratul ihromnya imam secara berturut-turut, tanpa tertinggal atau terlambat (masbuq) sama sekali. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Anas bin Malik radliyallah ‘anhu:
 مَنْ وَاظَبَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لا تَفُوْتُهُ رَكْعَةٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا بَرَاءَتَيْنِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

  Siapa yang menekuni (menjaga dengan teratur) shalat-shalat wajib selama 40 malam, tidak pernah tertinggal satu raka’atpun maka Allah akan mencatat untuknya dua kebebasan; yaitu terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan.” (HR. Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman, no. 2746).

4.      Jika ada seorang muslim yang terlambat mengikuti takbirotu al-ihrom-nya imam dengan adanya ‘udzur ( halangan ) syar’i, bukan dikarenakan kebiasaannya, maka dia bukan tergolong kedalam orang munafiq.

5.      Barangsiapa yang hendak meraih 2 keutamaan tersebut namun pernah tertinggal takbirotu al-ihrom-nya imam, maka hendaklah dia mengulangi dengan jumlah yang awal, namun jika dia tertinggal sebab ‘udzur syar’i, misalkan sakit, atau berada didaerah perang, atau di tempat tersebut jarang orang sholat, maka diharapkan dia mendapatkan 2 keutamaan tersebut, sebagaimana sabda nabi Muhammad saw:

                                                                      إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu tergantung terhadap apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhori 1, Muslim 1907)

Demikian beberapa pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat dipetik dari hadits ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan Taufiq dan bimbingan-Nya kpd kita semua agar dapat menjalankan setiap amal ibadah yang mendatangkan pahala besar dan keridhaan-Nya, serta menyelamatkan kita dari segala keburukan dan kebinasaan di dunia dan akhirat. Amiin.

Post a Comment