Q8kJ7IJX2ofCtqiT3cRtmv6yIJqPz134CnCrZZ01

Laporkan Penyalahgunaan

Cari Blog Ini

Wajah Islam Nusantara

islam nusantara nahdhatul ulama
Foto @m_fahrul_anam

Dalam catatan sejerah, masyarakat Nusantara telah menganut agama sebelum adanya penyebaran agama Hindu, Budha, dan Islam. Seperti yang dijelaskan oleh Agus Sunyoto dalam buku Atlas Walisongo, beliau menyebutkan bahwa dalam konteks “agama angin muson” agama kuno yang di sebut kapitayan merupakan agama yang dianut penghuni Nusantara.

Menurut cerita kuno kapitayan adalah agama purbakala yang dianut oleh penghuni lama pulau jawa berkulit hitam (ras proto Melanesia keturunan Homo Wajakensis-pen). Kemudian kepercayaan ini secara keliru oleh sejarawan Belanda disebut dengan istilah Animisme-Dinamisme.

Ada perbedaan teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia. Teori Gujarat mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dari Gujarat, India. Pada abad ke-13. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara dibawa langsung dari arab pada abad ke-7 M.

Teori Persia mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M, Asumsi yang menjadi landasan teori ini antara lain yaitu kesamaan budaya Islam Nusantara dengan Persia, seperti peringatan meninggalnya cucu baginda Nabi Muhammad SAW , pada bulan Asyura dan kesamaan ajaran Syekh siti Jenar dan al-Hallaj. (Ridwan, dkk, 2015).

Di sisi lain, Agus Sunyoto dalam buku yang sama juga mengungkapkan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia sejak pertengahan abad ke-7 masehi. Waktu itu dibawa oleh para saudagar Arab, yang sudah membangun jalur perhubungan dagang dengan Nusantara jauh sebelum Islam.

Namun fakta sejarah membuktikan bahwa penduduk Pribumi Nusantara belum menganut Agama Islam. Terlihat pada bukti faktual pada dasawarsa akhir abad ke-13, yaitu catatan marcopolo yang sempat singgah di perlak.

Marcopolo mencatat bahwa penduduk Perlak terbagi atas tiga golongan masyarakat sebagai pemukiman: kaum muslim Cina, kaum Muslim Persia-Arab, dan penduduk Pribumi yang masih memuja roh-roh dan kanibal.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa proses masuknya Islam ke-Nusantara yang ditandai awal hadirnya pedagang-pedagang Arab dan Persia pada abad ke-7 M, terbukti mengalami kendala sampai masuk pada pertengahan abad ke-15. Yaitu era dakwah Islam yang dipelopori tokoh-tokoh Sufi yang dikenal dengan sebutan Wali songo.

Sebutan Wali Songo memiliki makna Khusus yang dihubungkan dengan keberadaan tokoh-tokoh keramat di Jawa, yang berperan penting dalam Usaha penyebaran dan perkembangan Islam pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi.

Wali Songo telah merumuskan strategi dakwah atau strategi kebudayaan secara lebih sistematis, terutama bagaimana menghadapi kebudayaan Jawa dan Nusantara pada umumnya yang sudah sangat tua, kuat, dan sangat mapan.

Mereka memperkenalkan Islam tidak serta merta, tidak ada cara instan, karena itu mereka merumuskan strategi jangka panjang. Tidak masalah kalau harus mengenalakan Islam pada anak-anak. Sebab, mereka merupakan masa depan bangsa.

Sinkretisasi dan asimilasi Islam dengan adat budaya dan tradisi keagamaan setempat di Nusantara itulah yang membuat Islam berkembang dengan massif. Diantara Dakwah Islam yang dilakukan Wali Songo Adalah dakwah lewat Asimilasi Pendidikan dan juga dakwah lewat Seni dan Budaya.

Wali songo mengembangkan pendidikan model dukuh, asrama, dan padepokan dalam bentuk pesantren-pesantren, pesulukan-pesulukan juga model pendidikan masyarakat yang terbuka lewat langgar, tajug, masjid-masjid, dan permainan anak-anak. Sebagai proses islamaisasi yang dilakukan Wali Songo melalui pendidikan.

Sebelumnya lembaga pendidikan yang disebut “asrama” atau “dukuh” adalah lembaga pendidikan Syiwa-Buddha. Yang kemudian diformat sesuai ajaran Islam menjadi lembaga Pondok Pesantren hingga sampai saat ini.

Seni dan budaya tidak lepas dari sarana dakwah untuk mengislamkan masyarakat Nusantara yang dilakukan Wali Songo pada saat itu. Seni pertunjukan sangat potensial menjadi sarana komunikasi dan transformasi informasi kepada publik, salah satunya adalah pagelaran wayang.

Pada masa Majapahit, seni pertunjukan umumnya berkaitan dengan fungsi-fungsi ritual yang mengacu pada nilai-nilai budaya agraris yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan Hindu-Buddha.

Salah satu seni pertunjukan pada masa itu adalah wayang. Kemudian Sultan Demak yang pertama beserta walisongo mempertimbangkan masak-masak dan melakukan perubahan-perubahan bersifat deformatif dalam rangka penyesuaian seni pertunjukan wayang dengan ajaran Islam. dan terbukti media dakwah dengan wayang membuat Islam lebih diterima dan berkembang di Nusantara.

Bukan hanya pendidikan dan seni pertunjukan wayang, Amaliyah masyarakat Indonesi seperti peringatan hari kematian ke-3, ke-7, ke-10, ke-40, ke 100, ke 1000 setelah kematian seseorang, kenduri, peringatan haul dan sejenisnya adalah proses Asimilasi dan sinkretisasi kebudayaan yang dilakukan pada masa Wali Songo yang masih kita lihat keberadaannya sampai saat ini.

Konsep dakwah Islam itulah yang kemudian dijadikan rujukan oleh ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang kemudian kita kenal sebagai Islam Nusantara. Yaitu Islam yang ramah dan saling menghargai yang di bawa oleh Wali Songo yang kemudian dilanjutkan oleh ulama-ulama NU melalui cara-cara yang damai , terutama melalui prinsip Mau’izhatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan. Bukan Islam yang keras, kagetan, dan cenderung tidak menerima perbedaan.

Oleh : Busthomi Afif
Editor : Fitri Nur'azizah

Related Posts
Kempek Online
Media Informasi Pondok Pesantren Kempek

Related Posts

Posting Komentar