Q8kJ7IJX2ofCtqiT3cRtmv6yIJqPz134CnCrZZ01

Profil Dan Sejarah Lengkap Madrasah Takhosus Lil Banat (Ponpes Putri Kempek Aisyah)

Profil Dan Sejarah Lengkap Madrasah Takhosus Lil Banat (Ponpes Putri Kempek Aisyah)

profil dan sejarah mtlb madrasah takhosuss lil banat ponpes kempek putri aisyah
Santri putri sedang ujian akhir madrasah

Setelah Ny.Hj. Afwah Mumtazah (yang biasa kita sebut Umi) menyelesaikan studi S1 di IAIN Sunan Gunung Jati Bandung pada tahun 1997, di tahun yang sama Ummi fokus mengabdikan diri dalam pengembangan pesantren putri.

Berkat restu KH.Umar Sholeh (Walid) yang disampaikan langsung lewat ayahandanya, KH. Fuad Amin (alm) bahwa beliau menyarankan pengajian putri agar lebih ditingkatkan lagi dengan diberi pengajian-pengajian kitab kuning, dan rencana tersebut disetujui oleh Walid karena mengikuti perkembangan zaman kalau.

Akhirnya Ummi melakukan modernisasi sistem pendidikan di Ponpes Putri Aisyah Kempek dengan merintis Madrasah Takhosus lil Banat (MTLB) tahun 1996, kemudian membangun Madrasah Tahfidz ditahun 1997 karna jumlah santri tahfidz yang semakin banyak.

Untuk nenunjang materi di MTLB Pondok Pesantren Putri ‘Aisyah memberikan fasilitas pondok dengan membangun gedung 3 lantai, 2 lantai untuk MTLB dan lantai atas untuk tempat menjemur baju.

Pada tahun 2004 Ponpes Putri membangun perpustakaan. Setelah 10 tahun kemudian perubahan demi perubahan terus dilakukan seperti merenovasi mushola, kamar dan bak Darussalam pada tahun 2012, merenovasi Kamar Assalam, Babussalam dan Khoirussalam pada tahun 2014, membangun gedung Madrasah dan membangun ruang tamu pada tahun 2015.

Semua itu untuk memfasilitasi santri semakin banyak dari tahun ke tahun.

Untuk mengisi kegiatan tambahan, setiap hari jum’at diadakan lalaran bersama, senam dan keterampilan keputrian dengan tujuan mengembangkan bakat santri.

Pengembangan dan perubahan yang dilakukan Ponpes Kempek Putri ini di latar belakangi adanya keprihatinan pada waktu itu, dimana santri putri hanya bisa fokus pada pengajian al-Qur’an semata. Sehingga tidak jarang ketika alumni putri pindah ke pendidikan kitab kuning di Jawa Tengah atau Jawa Timur harus mulai dari kelas SP (I’dad) kembali.

Hal inilah yang menjadi motivasi perubahan yang dilakukan di asrama putri.

Upaya ini tetap dilandasi dengan adanya motivasi yang kuat untuk meningkatkan kualitas ilmiah santri putri dalam berbagai bidang kajian keagamaan yang meliputi: Ilmu Tafsir, Hadist, Tauhid, Fiqih, Nahwu, Shorof, Muamalah, dll.

Disamping al-Qur’an sebagai kajian wajib yang sudah menjadi ciri khas dari Pesantren Kempek.

Sistem tersebut terus dikaji dan dikembangkan yang senantiasa disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kebutuhan khalayak akan pendidikan yang layak dan bermartabat.

Diantaranya dengan mengadakan fasilitas perpustakaan yang diupayakan untuk mendorong dan menstimulasi rasa kritis dan daya kreatifitas santri putri di samping sebagai sarana penunjang dalam KBM yang menyediakan berbagai informasi dan sumber bacaan bermutu yang dibutuhkan.

Upaya pengembangan juga terus disinambungkan dengan adanya sarana-prasarana penunjang yang semakin lengkap.

Diantara upaya pengembangan tersebut dengan menjalin kerja sama aktif bersama lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan formal. Sehingga santri putri tetap bisa mengaji di madrasah meskipun mereka aktif di sekolah formal.

Semua usaha dikembalikan kepada niat murni awal untuk membekali santriwati dengan kepandaian ilmiah yang bermanfaat dan dibutuhkan untuk kehidupan mereka kelak di masyarakat.

Perombakan sistem pun selalu dilakukan setiap tahunnya, pembekalan yang sangat efektif untuk calon-calon wisuda, dengan adanya sistem praktik mengajar (PKL) baik di dalam pondok sendiri ataupun di pondok lain. Bahkan ada juga yang terjun langsung kemasyarakat desa sekitar, majlis ta’lim dan juga LSM (untuk para asatidz/asatidzah). Dengan tujuan agar santri siap terjun dalam lingkungan masyarakat.

Sistem Pengajaran

Sistem pengajaran yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Putri Kempek, khususnya Komplek Aisyah, mengambil bentuk perpaduan antara metode tradisional dan modern, yaitu menggunakan sistem pengajian sorogan dan wetonan, untuk metode tradisional serta sistem klasikal terpadu untuk metode pengajaran modern.

Sistem wetonan adalah salah satu bentuk pengajaran dimana guru yang membaca kitab yang sedang dikaji lengkap dengan memberikan artian secara terjemah dan para santri mencatat serta memberi makna (afsahan) dari arti kata-kata yang belum di pahami.

Sistem ini digunakan untuk kelas dasar yaitu kelas SP (I'dad). I dan II.

Sistem pengajaran sorogan adalah bentuk pengajaran dimana murid membaca kitab tanpa makna (kosongan) dan guru yang mendengarkan.

Sistem ini digunakan untuk kelas menengah seperti kelas III, IV,V dan kelas khusus.

Seiring berkembangnya teknologi, sistem pengajaran sorogan juga sudah dipadukan dengan presentasi menggunakan proyektor. Dalam penggunaan metode presentasi ini, pondok pesantren menyediakan laptop. Selain itu pondok pesantren berkerjasama dengan pihak sekolah untuk memanfaatkan laboratorium komputer sekolah sebagai tempat pembelajaran.

Adapun sistem klasikal terpadu adalah bentuk pengajaran dengan sistem pembagian kelas, berjenjang dan berkurikulum yang semuanya berpola pendidikan agama (durus ad-dieniyyah).

Sistem ini dipadukan juga dengan sistem pendidikan umum formal, yaitu pendidikan setingkat MTs dan MA. Perpaduan dua sistem ini disinkronkan dengan pembagian waktu.

Seiring ditetapkannya Ny. Hj. Afwah Mumtazah (yang akrab dipanggil umi) menjadi rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) tepatnya pada tahun 2016, Umi mendorong seluruh santri putri untuk kuliah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Salah satu usaha dalam memotivasinya adalah memberi beasiswa, memberi akses ujian paket, beasiswa tahfidz, mengikutkan program SADESA (Satu Desa Satu Hafidz Al-Quran) dan lain-lain.

Sementara untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Umi mengadakan program training, workshop dan seminar baik mandiri maupun berkerjasama dengan lembaga lain. Adagium yang sering umi ucapakan adalah "Perempuan harus cerdas dan pintar agar dapat mewujudkan generasi kuat dan ibu adalah madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya".

Oleh : Winda Nurul Alfiana
Disunting oleh : M.Lutfi Abdul Aziz

Sumber :
- Wawancara dengan Ny. Hj. Afwah Mumtazah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Kempek pada tanggal 21 April 2020
- Wawancara dengan Najwa Amaly sebagai ketua Pondok Pesantren Putri Aisyah pada tanggal 16 April 2019

Related Posts
Kempek Online
Media Informasi Pondok Pesantren Kempek

Related Posts

Posting Komentar