Q8kJ7IJX2ofCtqiT3cRtmv6yIJqPz134CnCrZZ01

Menu Navigasi

Kempek Online

Website Resmi Pondok Pesantren Kempek Cirebon

Iklan Sidebar

Trending

Kisah Az-Zuhri dan Khalifah Abdul Malik bin Marwan: Kemuliaan Ilmu bagi Ahlinya

Kisah Az-Zuhri dan Khalifah Abdul Malik bin Marwan: Kemuliaan Ilmu bagi Ahlinya

Pangkat bukanlah segalanya. Sebab hakikat sebuah pangkat hanyalah titipan anugerah yang diberikan oleh sang Maha Pangkat (مالك الملك). Kemulian seorang hamba bukan diukur dari sebuah pangkat atau keturunan mulia.

Sebab banyak dari mereka yang berketurunan biasa, bahkan dianggap rendah, bisa mengangkat derajat nasabnya dengan kemampuan kapasitas dan kapabilitas ilmu yang dimilikinya.

kemuliaan orang yang memiliki ilmu
Photo by Aaron Burden on Unsplash

Ilmu dapat mengangkat derajat kemuliaan seorang hamba di sisi-Nya. Hal itu menggambarkan akan keagungan ilmu bagi ahlinya yang tidak memandang ras, suku, budaya, dan keturunan.

Al-Quran menyebutkan “maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Ada sebuah kisah menakjubkan antara seorang ulama besar Ilmu Hadis, Ibnu Syihab az-Zuhri dan seorang Khalifah Bani Umayyah, Abdul Malik bin Marwan. Dimana kisah tersebut menggambarkan pemilik ilmu yang berkompeten bisa mengangkat derajat dirinya menjadi seorang pemimpin meskipun ia tergolong dari keturunan seorang budak (mawali).

Dari kedua tokoh ini terjadilah dialog tanya-jawab untuk kita renungi bersama.

Dimulai dengan pertanyaan Amirul Mukminin disaat az-Zuhri menghadap dirinya:

“Dari mana engkau datang, wahai Zuhri?”

“Saya datang dari kota Makkah” jawab az-Zuhri.

Lalu Amirul Mukminin bertanya kembali,

“Lalu siapa yang engkau jadikan pengganti (pemimpin) di kota Makkah untuk menuntun serta memberikan pendidikan kepada penduduk Makkah?”

“Atha’ bin Abi Rabbah"

“Apakah ia keturunan orang Arab asli atau keturunan mawali (keturunan budak yang sudah dibebaskan)?”

“Dari keturunan mawali

“Dengan kemampuan apa ia memimpin?”

“بالديانة والرواية (Dengan kemampuan ketakwaan yang ia miliki dan kemampuan mengaktualisasikan ajaran agama serta memanifestasikan jalan kehidupan”

“Memang orang yang memiliki kemampuan demikian layak menjadi pemimpin”

“Lantas siapa yang menjadi pemimpin di Yaman?”

“Thawus bin Kaisan”

“Apakah ia keturunan orang Arab asli atau keturunan mawali?”

“Dari keturunan mawali

“Dengan kemampuan apa ia memimpin?”

“Dengan kemampuan seperti yang dimiliki oleh Atha’ bin Abi Rabbah”

Demikian seterusnya Amirul Mukminin memberikan pertanyaan yang serupa kepada az-Zuhri tentang siapakah orang yang menjadi pemimpin di kota Mesir, Syam, Jazirah, Khurasan, Bashrah, dan Kufah serta dari keturunan manakah mereka berasal.

Pertanyaan demi pertanyaan dijawab oleh az-Zuhri, semua pemimpin tersebut ternyata berasal dari keturunan mawali.

Kemudian sang Khalifah geram atas semua jawaban az-Zuhri tersebut, ia berkata:

“Celakalah wahai Zuhri. Demi Allah. Kalau demikian nanti yang menguasai dunia ini adalah mawali-mawali, sedangkan meraka yang keturunan Arab asli hanya sabagai pendengar.” Tegas Khalifah.

Az-Zuhri menjawab dengan lugas:

“Wahai Amiral Mukminin, انما هو دين (Itulah agama Allah dan keputusan Allah). من حفظه ساد ومن ضيعه سقط (Barangsiapa yang melestarikan agama (ilmu Allah), maka dialah yang akan memimpin dunia. Dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dialah yang akan tersungkur dalam kehinaan hidup)”.

Dalam kosakata Arab, kata mawali (موالي) adalah orang yang menjadi budak lalu dibebaskan dan menjadi merdeka, kesetiaanya tetap kepada tuan yang membebaskannya.

Tokoh keturunan mawali yang disebutkan dalam dialog di atas ialah: Atha’ bin Abi Rabbah, Thawus bin Kaisan, Makhul, Maimun bin Mahran, Al-Dhahak bin Muzahim, Hasan al-Bashri, dan Ibrahim an-Nakha’i.

Perlu menjadi catatan, kisah di atas yang dinukil dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Adz-Dzahabi ini memang riwayatnya kurang terpercaya (al-hikayat munkarah).

Riwayat kisah yang diceritakan dari al-Muwaqqari ini dianggap lemah oleh kritikus hadis Abu Hatim, Yahya bin Mu’in menganggap riwayatnya dusta, dan an-Nasa’i mengatakan matruk al-hadis (hadis yang ditinggalkan).

Terlepas dari riwayat demikian, setidaknya dengan membaca kisah menakjubkan ini dapat menjadi motivasi kita semua bagaimana pelestarian ilmu dan ilmu pengetahuan dapat mengangkat kedudukan seseorang hingga tingkatannya lebih unggul dari kemulian nasab orang lain.

Semoga dengan mengangkat kisah ini diharapkan lahir generasi-generasi idaman yang hidupnya selalu dilimpahkan dalam dedikasi ilmu sebagai wujud pelestarian ilmu Allah dan Rasul-Nya.

Sebab saat ini kita membutuhkan sosok generasi yang menjaga agama dan akidah, ditangannya menjadi sebuah benteng kemusyrikan (politeisme) dan ateisme.

Saat ini kita membutuhkan sosok yang benar bukan yang pintar, sosok yang amanat bukan yang khianat.

Di era disrupsi ini, muncullah fenomena dimana kebenaran dianggap sebagai kesalahan dan kesalahan dianggap sebagai kebenaran. Oleh karenanya, dengan ilmu yang didasari hati yang bersih, semoga menjadi sebuah pelita di tengah gelap gulita cakrawala hidup.

Alhasil bilamana seseorang belajar ilmu agama baik ia dari keturunan terpandang ataupun tidak, yakinlah Allah akan mengangkat derajat di sisi-Nya. Juga, hal itu merupakan sebab kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Oleh Irfan Fauzy, Alumni Pondok Pesantren Kempek, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Referensi:
Kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi, juz. 5, hal. 85.
Sepotong Sambutan KH. Miftachul Akhyar dalam peringatan haul KH. Ali Maksum ke-32 Al-Munawwir Yogyakarta (23/12/20).

Related Posts
Kempek Online
Media Informasi Pondok Pesantren Kempek

Related Posts

Posting Komentar